BENTENG KEDUNG COWEK SURABAYA Bangunan Cagar Budaya “Warisan” Letkol TNI (Purn.) dr. Wiliater Hutagalung

  • Whatsapp
Foto/ist-dok
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa Pahlawannya”

Surabaya, ZI – Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Surabaya No. 188.45/261/ 436.1.2/ 019 tanggal 31 Oktober 2019, Benteng Kedung Cowek yang berlokasi di Jl. Kedung Cowek, Kecamatan Bulak Surabaya, ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB). Penetapan Benteng Kedung Cowek di Surabaya sebagai BCB memakan waktu cukup lama dan melalui proses yang tidak mudah.

Generasi muda di Surabaya pecinta sejarah yang tergabung dalam komunitas Roode Brug Soerabaia (Jembatan Merah Surabaya) yang didirikan oleh Ady Setyawan, sejak tahun 2010 mulai menggali informasi mengenai Benteng di Kedung Cowek tersebut. Informasi ini diperoleh dari buku karya Batara R. Hutagalung dengan judul “10 NOVEMBER 1945. MENGAPA INGGRIS MEMBOM SURABAYA?” yang diterbitkan pada bulan Oktober 2001. Dalam buku ini ditulis, bahwa dalam perang melawan agresi militer tentara Inggris yang dimulai tanggal 10 November 1945 di Surabaya, di Benteng Kedung Cowek ditempakan Pasukan Sriwijaya.

Bacaan Lainnya

Sumber pertama dan utama dari Batara R. Hutagalung adalah penuturan ayahnya, Letkol TNI (Purn.) dr. Wilater Hutagalung (20.3.1910 – 29.4.2002), pelaku sejarah yang ikut dalam pertempuran di Surabaya tanggal 28 – 30 Oktober 1945, dan dalam perang melawan tentara Inggris di Surabaya yang dimulai tanggal 10 November 1945.

Pasukan Sriwijaya adalah bekas anggota Giyugun (tentara sukarela) yang direkrut dan dilatih oleh tentara Jepang di Sumatra sejak bulan September 1943, di masa Perang Dunia II/Perang Asia Pasifik. Di Jawa, tentara sukarela ini dinamakan Heiho. Para pemuda yang direkrut menjadi anggota Giyugun adalah putra-putra dari keluarga pribumi yang terpelajar yang tinggal di Sumatra Utara, terutama di kota Medan dan sekitarnya.

Menjelang akhir perang, karena kekurangan serdadu, sekitar 2000 anggota Giyugun dari Sumatra Utara dibawa oleh tentara Jepang ke Morotai, Halmahera Utara, untuk membantu tentara Jepang dalam perang menghadapi tentara Amerika Serikat di bawah komando Letjen Douglas McArthur.

Foto; Benteng Kedung Cowek di Surabaya. Benteng mempertahankan kemerdekaan Indonesia terhadap agresi militer Inggris dengan kondisinya sangat tidak terawat/ist-dok

Setelah Jepang menyatakan menyerah kepada tentara Sekutu pada 15 Agustus 1945, sisa pasukan Giyugun di Morotai dilepaskan dan tidak diurus oleh tentara Jepang kepulangan mereka ke Sumatra Utara. Semua mencari jalan sendiri-sendiri atau dengan kelompoknya.  Dalam perjalanan kembali ke Sumatra melalui pantai Barat Sulawesi, sebagian tinggal di Majene, sekarang termasuk Provinsi Sulawesi Barat. Sekitar 400 orang melanjutkan perjalanan sampai ke Madura, kemudian mereka menyeberang ke Surabaya.

Secara kebetulan, Kol. TNI dr. Wiliater Hutagalung bertemu dengan dua orang pimpinan rombongan Giyugun tersebut di suatu pasar di Surabaya. Kepada mereka disampaikan, bahwa Indonesia telah merdeka, dan di Surabaya sedang dibentuk tentara Indonesia. Mereka disarankan untuk tinggal di Surabaya dan membentuk pasuka sendiri setingkat batalyon. Mereka setuju, dan menamakan pasukan mereka sebagai Pasukan Sriwijaya. Pemimpinnya adalah Jansen Rambe, sehingga pasukannya dikenal sebagai Pasukan Jansen Rambe. Setelah Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) TNI tahun 1948, semua pangkat di TNI diturunkan, termasuk Kol. TNI dr. Wiliater Hutagalung yang pangkatnya turun menjadi Letnan Kolonel.

Dalam pertempuran tanggal 28 – 30 Oktober 1945 di Surabaya, pasukan Sriwijaya ikut dalam penyerangan terhadap pos-pos pertahanan Brigade 49 tentara Inggris di bawah komando Brigjen AWS Mallaby. Dalam perang melawan agresi militer tentara Inggris yang dimulai tanggal 10 November 1945, mereka ditempatkan di perbentengan di Kedung Cowek di pesisir Surabaya, karena mereka memiliki pengalaman berperang melawan tentara Amerika dan sanggup mengoperasikan meriam-meriam besar bekas milik tentara Jepang.

Dalam perang yang berlangsung selama sekitar 3 minggu, sepertiga dari pasukan Sriwijaya gugur di Kedung Cowek di Surabaya, kota yang mereka tidak kenal sama sekali, hanya dengan semangat mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamirkan 3 bulan sebelumnya, tepatnya pada 17 Agustus 1945. Sudah selayaknya, tempat dan bangunan di mana mereka berjuang dan gugur, dikenang dan dihargai oleh generasi muda Indonesia umumnya, dan generasi muda di Sumatra Utara dan di Surabaya khususnya.

Foto; Komunitas Roode Brug Soerabaia/ist-dok

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ady Setyawan, Ketua dari Roode Brug Soerabaia di Belanda mengenai Benteng Kedung Cowek di Surabaya diketahui, bahwa benteng tersebut mulai dibangun awal tahun 1900-an. Jadi usianya telah lebih dari 100 tahun. Kemudian diketahui, bahwa dalam perang melawan tentara Inggris, Benteng Kedung Cowek menjadi benteng perlawanan yang dahsyat dan heroik, namun dengan pengorbanan jiwa banyak pemuda pejuang asal Sumatra Utara.

Tahun 2015 komunitas Roode Brug Soerabaia resmi mengajukan usul kepada Pemerintah Kota Surabaya, agar menetapkan Benteng Kedung Cowek sebagai Bangunan Cagar Budaya.

Setelah 5 tahun dan melalui proses yang cukup rumit serta tidak mudah, akhirnya perjuangan generasi muda pecinta sejarah yang tergabung dalam komunitas Roode Brug Soerabaia berhasil. Pemerintah Kota Surabaya menetapkan Benteng Kedung Cowek sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Pemkot Surabaya.

Diharapkan generasi muda Indonesia umumnya dan generasi muda Surabaya khususnya, dapat mengetahui pengorbanan para pemuda asal Sumatra Utara tahun 1945 dalam perang di Surabaya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Kisah Benteng Kedung Cowek di Surabaya, yang kini menjadi Bangunan Cagar Budaya, berawal dari penuturan pelaku sejarah, Letkol TNI (Prn.) dr. Wiliater Hutagalung. Mengenai kisah Benteng Kedung Cowek ini pertama kali dikenal oleh masyarakat Indonesia melalui buku “10 NOVEMBER 1945. MENGAPA INGGRIS MEMBOM SURABAYA?”, karya Batara R. Hutagalung, yang adalah  putra Letkol TNI (Purn.) dr. Wiliater Hutagalung.

Tahun 2016 riwayat perjuangan Letkol TNI (Prn.) dr. Wiliater Hutagalung diterbitkan dengan judul “Autobiografi Letkol TNI (Purn.) dr. Wiliater Hutagalung. Putra Tapanuli Berjuang di Pulau Jawa,” Di dalam buku ini cukup rinci ditulis mengenai Pasukan Sriwijaya, yang terdiri dari para pemuda asal Sumatra Utara, yang berjuang dan gugur di Benteng Kedung Cowek di Surabaya.

Dengan demikian, dapat dikatakan, bahwa Benteng Kedung Cowek di Surabaya ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berkat adanya penuturan dari Letkol TNI (Purn.) dr. Wiliater Hutagalung, putra Tapanuli yang ikut mendirikan BKR/TKR di Surabaya yang merupakan cikalbakal Divisi Brawijaya. Letkol TNI dr. Wiliater Hutagalung ikut dalam perang mempertahankan kemerdekaan melawan agresi militer Inggris di Surabaya bulan Oktober/November 1945.

(Penulis: Batara R Hutagalung/zi)

Pos terkait