Diduga Oknum Polri Tidak Profesional, 2 Perwakilan Korban Bersama Pengacaranya Datangi Propam Mabes Polri

Foto; 2 orang perwakilan korban didampingi 2 pengacaranya/zi

Jakarta, ZInews – 2 (dua) orang perwakilan dari korban ketidakprofesionalan oknum Polri jajaran Sat Narkoba Polrestabes Medan yang diduga keras telah melakukan tindakan penganiayaan terhadap para korban yang berjumlah 6 (enam) orang dan 1 (satu) orang meninggal dunia, pada tanggal 8 Juli 2018 silam, mendatangi Layanan Pengaduan Propam Mabes Polri di Jl. Trunojoyo No.3, RT.2/RW.1, Selong, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Rabu (09/11/2022).

Salah satu dari korban Herialdi yang ikut mengalami dalam peristiwa tersebut menjelaskan, berawal saat dia bersama rekannya sedang berkendara dari daerah Langsa mengarah Medan, Sumatera Utara, pada Minggu (08 Juli 2018) silam. Namun ditengah perjalanan tiba-tiba mobil yang dikendarai diberhentikan oleh sebuah mobil minibus Toyota Avanza, tanpa ada alasan yang jelas, para oknum tersebut juga tidak menunjukkan identitas. Kemudian menurutnya langsung menyuruh turun dari mobil dan diduga melakukan pemukulan oleh oknum yang diperkiraan 4 (empat) orang.

Bacaan Lainnya

Selanjutnya dia menceritakan, setelah mendapatkan sebuah perlakuan yang tidak manusiawi dia bersama rekannya langsung diboyong ke Polsek Brandan.

Itu sebabnya pelapor asal Langkat tersebut datang ke Mabes Polri untuk melaporkan sebuah peristiwa yang disinyalir pelanggaran HAM berat. Mereka datang untuk mencari keadilan dengan menggunakan bis. Padahal salah satu yang menjadi korban adalah dengan kondisi cacat /disabilitas (tanpa kaki-red) sejak lahir, pendidikannya juga hanya sempat duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) tidak sampai lulus. Pun, penyandang disabilitas itu tidak luput dari pemukulan, serta diborgol sehingga korban mengalami memar di sebelah kiri bagian rusuk.

Kepada media ZInews dia menjelaskan, bahwa selama ini tidak pernah melakukan perbuatan yang melanggar hukum, sehingga dengan adanya peristiwa tersebut meninggalkan kisah trauma.

Harapannya dengan kedatangan di Mabes Polri, agar para oknum yang diduga melakukan pemukulan/penganiayaan diproses secara hukum yang berlaku dan diberi sanksi tegas.

Sementara Jupatri Sinaga yang turut hadir untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran dari peristiwa itu, merupakan saudara dari almarhum S Malau, menjelaskan bahwa almarhum S Malau menjadi salah satu korban dugaan penganiayaan salah tangkap oleh oknum Satres narkoba Polrestabes Medan.

“Sayalah pengadunya. Kronologis kejadiannya pada tanggal 28 Juli 2018 Abang saya S Malau berjalan ke Aceh dan tiba-tiba langsung dihentikan oleh oknum tersebut, 2 tim dari sat narkoba Polrestabes Medan. Hari itu langsung dipukulin. 3 (tiga) orang dikeluarkan dari dalam mobil dan sementara abang Ipar saya masih berada di dalam mobil. Pada saat kejadian, saya menanyakan, ‘kenapa dipukuli’, kemudian korban menjawab, ‘kami tidak tahu kenapa kami dipukulin’. Pada saat kejadian saya berada di rumah,” ucapnya.

Lalu pukul 03.30 WIB lanjutnya, dihubungi oleh pihak rumah sakit puskesmas Pangkalan Brandan dan menanyakan, apakah benar keluarga dari Malau, dan disuruh segera ke puskesmas ada kecelakaan.

“Saya dan istri langsung berangkat ke puskesmas. Tiba disana sekitar pukul 5.30 WIB. Kemudian saya langsung melihat keadaan mobil saya ringsek dan satu mobil Innova berada di kanan jalan. Pada saat itu, saya langsung bertanya pada Kanit Lantas Pangkalan Brandan, bagaimana tentang kejadian ini, dan dia mengatakan, ‘kejadian ini sudah ditangani oleh Polres Langkat‘. Saya mendapat kabar dari puskesmas bahwa abang saya sudah keadaan tidak bernyawa, akhirnya saya membawa pulang jenazah atas ijin dari pihak kepolisian, dengan anggapan kejadian adalah kecelakaan tunggal,” ucap Jupatri usai membuat Laporan resmi ke Sentra Pelayanan Propam Polri. 

Jupatri menegaskan, bahwa pada malamnya pukul 18,30 WIB semua saksi dipanggil dan diminta menceritakan kejadian saat itu. Dalam ceritanya pada pukul 23.30 WIB mereka di stop oleh oknum polisi langsung dipukuli di luar kendaraan. Kemudian mereka (saksi-red), mengisahkan bahwa masih ada 1 (satu) orang lagi didalam mobil, dan hal tersebut disampaikan kepada oknum pada saat kejadian. Tetapi oknum polisi menjawab tidak ada.

“Setelah mendengarkan cerita para saksi, saya menduga hal ini bukan kecelakaan tunggal. Tapi salah tangkap yang menyebabkan abang kami meninggal dunia. Kemudian tanggal 10 Juli saya langsung berangkat ke Polres Langkat, berjumpa dengan salah Sat Reskrim dan diarahkan Kadiv propam Polres Langkat. Tiba di Kadiv Propam Polres Langkat, justru dilempar ke Polrestabes Medan,” ujarnya dengan nada kecewa.

Foto; SP2HP dari Poldasu/zi

Seminggu setelah penguburan almarhum S Malau, dia menjelaskan, kembali Polres Langkat, namun tidak ada kejelasan atas peristiwa tersebut. Bahkan menurutnya, dia seolah-olah dibola atau dilempar sana sini.

“Saya tidak mendapat kejelasan, seolah-olah dipermainkan, dilempar ke Polres Langkat, kemudian Polrestabes Medan, bahkan Poldasu. Akhirnya saya buat laporan pertama pada tanggal 10 Oktober 2018 ke Polda Sumut, lalu ke Propam Mabes Polri tahun 2018 juga, kemudian ke Kapolri, juga Presiden Jokowi meminta pertanggung jawaban para oknum, agar menerima ganjaran sesuai dengan perbuatannya,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu dikatakan, satu tahun menunggu baru dapat laporan SP2HP dari Polda Sumatera Utara dengan uraian, bahwa tidak ada keberatan lagi dari pihak yang dianiaya atau korban. Termasuk untuk korban meninggal keterangannya hanya sebagai korban kecelakaan saja tidak ada penganiayaan.

“Itu sebabnya kami ingin mencari keadilan kepada pak Kapolri, pak Presiden. 4 (empat) tahun kami menunggu. Almarhum sendiri merupakan anak pensiunan Kapolsek, apa guna tanda jasa yang diterima ayah almarhum dan piagam penghargaan kalau anaknya tidak bisa menerima keadilan. Saya datang ke Mabes Polri saat ini didampingi oleh 2 (dua) pengacara, Dr. Manotar Tampubolon, SH, MA, MH, dan abang saya Maniur Sinaga, SH, MH, untuk mendampingi saya dalam mencari keadilan,” tandasnya seraya menunjukan piagam penghargaan yang diterima ayah almarhum.

Menanggapi peristiwa itu, Dr. Manotar Tampubolon, mengatakan bahwa sudah melaporkan 10 (sepuluh) oknum dari Sat Narkoba Polresta medan yang diduga melakukan penyekapan secara ilegal, dugaan pembunuhan atas S Malau karena dalam keteranganya ada yang meninggal.

“Kalau tidak ada penangkapan ilegal itu tidak mungkin ada yang mati. Dari 10 (sepuluh) orang yang kami laporkan ke Propam Polri saat ini ada 1 (satu) orang yang dimutasi ke Mabes Polri. Untuk laporan yang ke 2 (dua) di Propam Poldasu tidak becus menangani pengaduan klien kami karena sudah beberapa tahun lalu dilaporkan ke tempat pelayanan Polres kemudian dilimpahkan ke Polda Sumut. Tapi disana laporan itu tidak jelas, jadi hari ini juga kami laporkan oknum Propam Polda Sumut. Mereka seharusnya diberi ganjaran atau sanksi yang tegas sesuai etika profesi Polri karena sudah menelantarkan pengaduan klien kami jadi ada 2 (dua) laporan yang kami buat,” tandasnya.

Senada dengan Maniur Sinaga, merasa turut prihatin atas ulah para oknum dalam menangani setiap aduan dari warga masyarakat apalagi sampai memakan waktu tahunan tidak kunjung ada keadilan dan kepastian hukum bagi masyarakat.

“Ini perlu direformasi sebenarnya, moral akhlak dalam penegakan hukum. Nah, ini akan kita perjuangkan khususnya yang datang dari Langkat (klien-red) bisa mendapatkan keadilan sesuai dengan visi misi Kapolri saat ini,” pungkas Maniur.

(tim)

Pos terkait