Pecinta Alam Sejati Tak Sekedar Tancap Bendera di Puncak Gunung

Foto; Kehadiran 4 narasumber di Sarasehan Kebangsaan Pecinta Alam Solo Raya sesama komunitas pecinta alam Sabagiri didukung Kartosuro Greget/ist

Kartosuro, ZInews – “Menjadi pecinta alam yang tangguh, ternyata tidaklah gampang. Selain kekuatan fisik dan mental, juga harus berwawasan luas. Tak hanya berpetualang, mendaki, dan tancap bendera di puncak gunung. Namun yang terpenting, harus bisa bermanfaat bagi lingkungannya”.

Wujud dari rasa cinta terhadap alam lewat pengalaman yang sudah dilaluinya, 4 (empat) sosok sepakat membuat sebuah acara Sarasehan Kebangsaan Pecinta Alam Solo Raya sesama komunitas pecinta alam Sabagiri didukung Kartosuro Greget dengan tema, ‘Patriotisme Sebagai Wujud Jiwa Pecinta Alam’ yang kebetulan masih suasana euforia Kemerdekaan RI ke 77, di Hotel Pramesthi, Kartosuro, Sukoharjo, Jateng, Minggu (28/08/2022) siang.

Bacaan Lainnya

Diketahui bahwa 4 sosok sekaligus narasumber di acara sarasehan tersebut adalah praktisi dan petualang alam, yang sudah diakui namanya dalam dunia kepecintaalaman baik skala nasional hingga dunia.

Salah satu narasumber Totok Harsono, mengisahkan pengalamannya sewaktu menerobos belantara rimba Papua. Termasuk saat berkomunikasi dengan suku-suku asli Papua di pedalaman.

Totok pun juga membeberkan adanya mistis di beberapa wilayah gunung dan pedalaman Papua. Beragam makhluk sangat aneh kerap membuntutinya sepanjang beberapa perjalanan. Bahkan menurut suku-suku setempat, makluk-makluk itu memang sebangsa jin atau lelembut gaib yang menjaga hutan. Namun ia mempunyai tips jitu agar tidak diganggu oleh makhluk-makhluk gaib tersebut, yaitu selalu mengucapkan kulo nuwun atau salam masuk, sesuai dengan bahasa yang ia kuasai.

“Karena pada dasarnya, semua bahasa manusia bisa dimengerti oleh semua makhluk gaib, termasuk penguasa alam tertinggi, yaitu Tuhan Yang Maha Esa,” terangnya.

Lewat kisah pengalaman itulah, Totok berharap agar generasi muda, terutama yang cinta dengan dunia pecinta alam, agar selalu mengedepankan rasa patriotisme dan nasionalisme yang tinggi.

Sehingga, semua yang dilakukan bisa berguna bagi lingkungan dan alam sekitarnya. Bahkan tidak harus dengan cara berlebihan. Cukup merawat pohon di lingkungan sudah sangat berarti. Karena pohon menjadi sumber air dan oksigen yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan makhluk hidup lainnya.

Sementara Kapten Inf Daryo Purwanto, dalam ciritanya bagaimana saat menaklukkan Mount Everest di Nepal pada tahun 1996, dengan ekstremnya medan saat latihan hingga benar-benar mencapai puncak gunung Everest Gunung legendaris dengan tingkat oksigen yang sangat minim. Serta menjadi jujugan favorit para pendaki gunung tingkat dunia.

Foto; Pemrakarsa Kartasura Greget, Djuyamto, SH, MH/ist

Terkait jiwa patriotisme, saat itu ia mengaku menggapai puncak everest karena bersaing dengan negara Malaysia yang sesumbar akan menaklukkan everest.

“Danjen Kopassus waktu itu Prabowo Subianto segera menugaskan saya bersama pendaki sipil lain yang terpilih untuk bergabung dalam tim pendakian Indonesia. Setelah bendera Merah Putih tertancap di puncak Everest maka tersiarlah ke seluruh dunia bahwa nama Indonesia menjadi harum dan terkenal,” kata Kap. Inf Daryo.

Selain itu, perwakilan dari Basarnas Solo, Arief Sugiyarto, memaparkan lewat pengalaman masing-masing hingga seperti saat ini ada satu benang merah yang bisa ditarik dari para narasumber, yaitu masing-masing mencintai hobi, pekerjaan, dan kegiatan alam, namun mereka juga sangat mencintai NKRI. Dia mengakui bahwa saat ini pihaknya didukung 19 anggota mengcover seluruh wilayah Solo Raya serta Magelang.

“Rasa nasionalisme serta patriotisme kami sudah tak perlu diragukan lagi,” tegasnya.

Di akhir, pria yang akrab disapa Om Djoe ini mengisahkan, bahwa patriotisme merupakan sifat wajib yang harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku sebagai pecinta alam.

Wujud nyatanya yaitu, pecinta alam harus benar-benar bisa menjaga alam dan lingkungannya. Terutama lingkungan dimana ia sendiri tinggal. Kewajiban menjaga alam itu mutlak jauh lebih penting daripada aktivitas di alam bebasnya. Karena kelestarian alam dan lingkungan yang bersih dan selalu terjaga, menjadi wujud kecintaan semua pecinta alam kepada tanah air Indonesia.

“Apalagi saat ini, badan dunia PBB tengah gencar menyampaikan isu-isu ancaman global,” katanya.

Isu tersebut kata penggagas dan penggiat Kartosuro Greget itu, kelangkaan pangan, kelangkaan air bersih, serta pemanasan global yang sangat mempengaruhi cuaca atau iklim di seluruh dunia menjadi serba tidak pasti.

Karena itu, dia menghimbau peran pecinta alam untuk bisa menghadapi tantangan ketiga isu dunia tersebut melalui sebuah tindakan untuk mencegah, atau setidaknya memberikan aksi nyata untuk memecahkan masalah. Meskipun dilakukan dalam skala kecil, atau di lingkungannya masing-masing.

“Bisa dengan kampanye atau aksi tanam pohon, penghijauan, bersih sungai atau sumber air, dll. Sehingga sumber penghidupan yang meliputi air, udara, serta pangan bisa tetap lestari dan terjaga. Sehingga walau dimanapun, jiwa patriotisme tetap selalu cinta tanah air,” pesan Djuyamto yang berprofesi hakim itu.

Diketahui dalam acara yang dihadiri oleh jajaran Forkompincam Kartasura, Ketua MUI Kartasura Kyai Nadjib, puluhan komunitas Pecinta Alam dan Tim SAR, juga Pawartos, Rescue 79, dan Kartasura Greget, serta simpatisan pecinta alam dari seluruh Solo Raya dan Magelang, sarasehan tersebut dihibur pesinden Temon Greget dan Kiki Atrika yang tergabung dalam Relink 24T, tentu tidak ketinggalan juga deretan produk UMKM dari wilayah Kartosuro sekitarnya.

(Med/raja)