Sosok Teladan Nyata Hakim Muda Dalam Menjaga Integritas

Foto; Ketua PN Pasangkayu I Ketut Darpawan, SH, bersama aparatur PN Pasangkayu saat tandatangani pakta integritas/zi

PASANGKAYU, ZINEWS | Selain Visi Misi yang ada di Mahkamah Agung yang sering digadang-gadang hingga saat ini, bahkan di acara Penyampaian Refleksi Kinerja MA RI 2022, Ketua MA Prof. Dr. H. M. Syarifuddin, SH, MH, menegaskan bahwa ‘Aspek Integritas menjadi kunci dalam upaya membangun lembaga peradilan yang bersih dan berwibawa’.

“Selaras dengan Visi dan Misi Mahkamah Agung, sebagai Ketua Pengadilan Negeri, saya selalu menekankan kepada rekan-rekan kerja di Pengadilan Negeri (PN) Pasangkayu, bahwa Masyarakat yang akan memanfaatkan layanan harus merasa tenang dan percaya akan dilayani dengan baik serta dimudahkan aksesnya untuk mendapatkan hak-haknya,” ujar I Ketut Darpawan, SH, mengawali wawancara eksklusifnya dengan redaksi ZINEWS, Sabtu (07/01/2023).

Bacaan Lainnya

Dalam menjalankan tugas sehari-hari, lanjut Ketut, bersama hakim dan semua aparatur di PN Pasangkayu berusaha senantiasa loyal kepada nilai-nilai utama organisasi, yang tujuannya adalah membangun organisasi dengan kultur yang kokoh dengan nilai-nilai yang terinternalisasi dengan baik. Khususnya antikorupsi, dengan harapan siapapun yang masuk ke PN Pasangkayu akan mengikutinya.

Disinggung dengan upaya dan kerja keras yang sudah dilakukan pihak Mahkamah Agung sebagai benteng terakhir para pencari keadilan, ternyata tidak menjamin jajaran dibawahnya menjadi patuh dan bekerja sesuai sumpah jabatan. Bagaimana sikap bapak dalam hal ini dengan segala hambatan dan tantangannya?

“Saat pertama kali memimpin rapat sebagai pimpinan dengan tegas saya katakan, bahwa jika ada diantara kita yang melakukan kesalahan dalam melaksanakan tugas entah itu karena lalai, atau kurang pengetahuan, masih bisa kita perbaiki dengan pembinaan, pengembangan kompetensi, transfer pengetahuan, diklat dan sebagainya. Tetapi kalau urusannya sudah korupsi (menerima suap, hadiah terkait perkara atau perbuatan perbuatan korupsi lainnya) tidak ada toleransi. Saya percaya kepada semua hakim dan aparatur lainnya di PN Pasangkayu, tapi saya katakan ‘jika suatu saat ada yang terlibat korupsi maka saya sendiri yang akan melaporkan dan berusaha menyeret yang bersangkutan agar diadili. Dan hal ini pun berlaku untuk diri saya sendiri’. Saya ingin ada kesetaraan di PN Pasangkayu. Baik pimpinan atau hakim dan aparatur lainnya diperlakukan sama dalam hal usaha pencegahan dan pemberantasan korupsi,” tegasnya.

Dia menjelaskan, bahwa sebenarnya ini bukan hal yang benar-benar baru, hanya menegaskan kembali apa yang sudah dinyatakan dalam Pakta Integritas yang diucapkan setiap awal tahun dengan menandatangani dokumen.

Sebagai role model PN Pasangkayu yang merupakan representasi dari badan peradilan tersebut, sementara untuk mengawasi kinerja para hakim sesuai dengan tupoksinya adalah Wakil Ketua Pengadilan. Bagaimana strategi bapak dalam menyamakan persepsi sehingga Visi Misi bisa berjalan dengan baik?

“Kebetulan di PN Pasangkayu belum ada Wakil Ketua saat ini. Namun, jika seandainya nanti ada WKPN yang ditugaskan, maka pertama-tama yang akan saya lakukan adalah menegaskan, bahwa KPN dan WKPN harus menjadi teladan bagi para hakim dan aparatur pengadilan lainnya. Sikap dan perilaku keduanya harus sama dalam hal antikorupsi, kedisiplinan dan profesionalisme. Saya akan menegaskan bahwa WKPN harus mendukung kebijakan KPN. Kalaupun ada kebijakan yang sudah perlu diperbaharui dikarenakan ada perkembangan situasi yang baru, KPN dan WKPN harus membahasnya terlebih dahulu secara detail agar tidak terjadi perbedaan tafsir atau persepsi yang dapat menimbulkan permasalahan dalam pelaksanaannya,” ucap pria kelahiran pulau Dewata itu.

Dalam mewujudkan wilayah Zona Integritas tentu tidaklah cukup hanya Ketua PN saja, tapi dibutuhkan tim work. Nah bagaimana cara bapak dalam membangun tim yang solid dan agendanya apa saja dan seberapa efisien cara cara tersebut?

“Salah satu kuncinya adalah membentuk tim dengan komposisi yang seimbang. Di semua pengadilan saya rasa mengalami persoalan yang sama, yakni tidak meratanya kualitas sumber daya manusia. Namun dengan mengatur komposisinya, kita akan mendapatkan kualitas tim yang seimbang. Yang berikutnya adalah membangun manajemen kerja yang baik. Di dalamnya ada kualitas komunikasi, pembagian tugas, dsb. Saya berusaha selalu berkomunikasi dengan para hakim selaku koordinator area. Saya mendengarkan banyak masukan dari mereka sebelum mengambil keputusan, misalnya tentang bagaimana sebaiknya menentukan koordinator area agar dalam bekerja nantinya lebih efisien? Jenis kegiatan apa yang sebaiknya dilakukan agar mudah mencapai tujuan yang diinginkan?. Sebagaimana yang dilakukan juga oleh Pengadilan lain, kami melakukan evaluasi pembangunan Zona Integritas (ZI) setiap bulan dan membicarakan mengenai apa yang telah berhasil dilaksanakan, dan apa yang belum, sekaligus hambatan apa yang dihadapi,” katanya.

Foto; Pakta integritas sebagai komitmen dalam menjaga marwah peradilan/zi

Menurut Ketut, bahwa sejauh ini komunikasi dan kerjasama antara Pimpinan, Ketua Tim Pembangunan, Koordinator area dan anggotanya dalam melaksanakan target-target kegiatan yang hendak dilaksanakan dalam setiap tahunnya secara umum berjalan dengan baik. Sekalipun ada hambatan di sana-sini, tapi sebagian besar dapat diatasi.

Yang sangat menarik di pribadi Ketua PN Pasangkayu ini, berdasarkan informasi, bahwa ternyata istrinya juga seorang pejabat dan menjadi Ketua Pengadilan. Redaksi ingin mengorek sedikit kisahnya diceritakan. Kemudian bagaimana kepastian komitmennya, karena satu kesatuan harus saling menjaga nama baik keluarga (rumah tangga) juga Satker yang dipimpin?

Ini petikannya,..

“Iya. Kebetulan istri saya menjabat sebagai Ketua Pengadilan Negeri Donggala. Istri saya lebih senior (angkatan 16-red) dari saya (angkatan-18). Alkisah istri saya dipanggil uji kelayakan dan kepatutan sebagai Pimpinan Pengadilan Kelas II di tahun 2019. Setelah dinyatakan lulus, kemudian bulan Juni tahun 2020 istri saya dipromosikan sebagai WKPN Donggala dan sekaligus saat itu saya dipindahkan juga ke PN Palu. Hal ini dikarenakan MA memang memiliki kebijakan selalu mendekatkan tepat tugas pasangan suami istri hakim.

Jarak antara PN Donggala dan PN Palu cukup dekat, hanya 35 km. Jadi kami tinggal di Donggala dan setiap hari saya pulang pergi Donggala-Palu. Setelah 1 (satu) tahun bertugas di PN Palu, saya mendapat kesempatan juga mengikuti uji kelayakan dan kepatutan sebagai Pimpinan Pengadilan Negeri Kelas II dan dinyatakan lulus. Dan kemudian ditempatkan di PN Pasangkayu. Untuk kali ini saya tidak bisa bertemu dengan keluarga setiap hari karena jarak antara PN Pasangkayu dan PN Donggala kurang lebih 100 km. Namun demikian, saya masih bisa pulang mengunjungi keluarga setiap akhir pekan.

Sejak awal menikah, kami sudah mempersiapkan diri, kalau-kalau kami akan menghadapi situasi ini. Sama-sama menduduki jabatan struktural. Yang lebih banyak kami diskusikan sebenarnya adalah tempat penugasan dan bagaimana mengatur agar kondisi keluarga tetap nyaman. Kami sudah membuat berbagai skenario untuk mempersiapkan diri.

Saya dan istri selalu berusaha melaksanakan tugas sesuai rambu-rambu yang ditentukan yakni peraturan perundang-undangan dan kode etik. Kami juga berusaha selalu menjaga agar urusan rumah tangga tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas-tugas kantor. Kebetulan selama hampir 15 tahun menikah, kami jarang sekali mengalami perselisihan yang berat…sesekali bertengkar biasalah ya..hehehe. Dan kami menjaga sekali agar masalah-masalah rumah tangga yang kami hadapi itu tidak berpengaruh kepada pelaksanaan tugas di kantor.”

Pria Buleleng kelahiran 24 Mei 1980 ini juga mengakui kalau selama menjalankan tugas sebagai hakim banyak sekali suka dukanya. Ditambah yang tidak pernah merantau tiba-tiba harus merantau ke tempat yang kondisinya sangat jauh berbeda dengan tempat yang biasa ditinggali. Tentu hal itu adalah salah satu tantangan yang harus dilewati masa-masa awal dilantik sebagai hakim.

Kemudian, menghadapi para pihak berperkara yang karakternya berbeda-beda di setiap daerah tempat penugasan juga memerlukan kesabaran dan kemampuan komunikasi interpersonal yang baik.

Foto; Keluarga Besar PN Pasangkayu/zi

“Tetapi setelah saya menjalaninya, saya menyadari satu hal bahwa jika kita menjalaninya dengan sabar dan ikhlas, kita akan tenang menjalankan tugas dan fokus memberikan pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan. Harus selalu ada visi dan misi yang lebih besar selain keinginan-keinginan pribadi. Terlebih lagi seorang hakim memiliki kewenangan yang sangat besar di bidang penegakan hukum,” katanya.

Selain itu, dia kembali mengisahkan di masa pandemi Covid-19 adalah pengalaman yang benar-benar menguras energi dan pikiran karena tiba-tiba harus beradaptasi dengan metode persidangan baru yang menggunakan sarana elektronik dan internet (online-red). Dimana semua harus belajar dengan cepat penggunaan aplikasi untuk sarana bersidang online dan membiasakan diri menghadapi berbagai kendalanya. Dan situasi ini menyebabkan seringkali persidangan tidak dapat dilaksanakan dengan baik.

“Saat itu saya merasakan tingkat stress makin tinggi. Kekhawatiran menurunnya kualitas putusan dari persidangan yang mengalami banyak kendala semacam itu selalu muncul dalam benak kami,” ujar Ketut.

Ke redaksi ZINEWS pria yang memiliki hobi nyanyi dan mampu menguasai beberapa alat musik ini menceritakan pengalaman lain yang juga sulit dilupakan, ketika proses perpindahan dari Jawa Timur ke Sulawesi Tengah yang terjadi di masa pandemi Covid-19 mulai semakin mengganas di tahun 2020. Perencanaan keberangkatan serba tidak pasti karena kebijakan pemerintah yang sewaktu-waktu berubah, khususnya kebijakan di bidang transportasi udara.

“Namun di sisi lain, saya juga sangat bersyukur bahwa selama saya bertugas sebagai hakim, lingkungan sekitar pada umumnya sangat mendukung usaha saya membangun suasana yang lebih terbuka, perbaikan pada sistem administrasi dan utamanya mencegah dan menutup celah celah korupsi. Pada intinya saya sangat senang menjalankan tugas sebagai hakim. Dengan kewenangan besar yang kita miliki, bisa mengambil peran untuk membangun dunia peradilan yang lebih baik,” tutur Ketut dengan kebiasaan nyanyi bersama anak istri sebagai mekanisme pelepasan penghiburan saat senggang.

Di akhir, closing statement sebagai ‘Role Model Nyata Hakim Muda dalam Menjaga Integritas Profesi’?

“Kita semua punya peran masing-masing dalam kehidupan di dunia ini. Yang perlu kita lakukan selama masih hidup adalah senantiasa berusaha melaksanakan tugas dan kewajiban kita dengan benar dan terus memperbaiki diri seraya berdoa kepada Tuhan, berterima kasih atas segala karunia yang diberikan. Selebihnya kita ikhlaskan apa yang terjadi,” tandas Ketut yang punya ciri khas kumis dan jenggot itu menutup wawancaranya.

(raja)

Pos terkait